RAKERDIN 2026 LP Ma'arif NU Kudus, Dorong Madrasah Unggul dan Berdaya Saing Global
Kudus, lpma'arifnukudus.or.id – Di tengah tuntutan agar lembaga pendidikan semakin adaptif dan mampu bersaing hingga tingkat global, LP Ma’arif NU Kudus menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan mutu madrasah/sekolah sekaligus memperjuangkan kesejahteraan guru.
Pesan tersebut mengemuka dalam Rapat Kerja Dinas (RAKERDIN) LP Ma’arif NU Kudus Tahun 2026 yang digelar di Sapphire Boutique Hotel Kudus, Sabtu (8/8/2026).
Mengusung tema “LP Ma'arif NU Kudus Bersinergi Mewujudkan Pendidikan Unggul, Berkarakter, dan Berdaya Saing Global”, RAKERDIN diikuti jajaran pengurus LP Ma’arif NU Kudus, seluruh kepala madrasah dan sekolah di bawah naungan LP Ma’arif NU Kudus, serta tokoh ulama PCNU Kudus.
Forum tersebut menghadirkan sejumlah tokoh penting, di antaranya Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI H. Abdul Wachid, Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Prof. Dr. Amin Suyitno, M.Ag., Dr. H. Saiful Mujab, MA, Kepala Kantor Kemenag Jawa Tengah, Prof. Dr. Abdurrahman Kasdi, Rektor UIN Sunan Kudus, serta Ketua LP Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah Fakhruddin Karmani.
Ketua LP Ma’arif NU Kudus, K. Ridwan, menegaskan bahwa kemajuan madrasah harus dibangun dengan pendekatan yang tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga menghadirkan pendidikan yang humanis.
“Anak-anak kita harus mampu bersaing di kancah global. Mari kita bimbing mereka dengan cinta,” ujarnya.
Menurut Ridwan, tema RAKERDIN 2026 merupakan bentuk komitmen LP Ma’arif NU Kudus untuk membawa madrasah agar semakin unggul, adaptif terhadap perubahan, dan mampu bersaing baik di tingkat nasional maupun global.
Dalam kegiatan tersebut, LP Ma’arif NU Kudus juga mensosialisasikan Buku Tata Kerja Badan Pelaksana Penyelenggara Pendidikan Ma’arif NU Kudus sebagai pedoman dalam memperkuat tata kelola pendidikan di lingkungan Ma’arif NU.
Sementara itu, Wakil Ketua PCNU Kudus, Kisbiyanto, menilai LP Ma’arif NU merupakan salah satu institusi penting dalam perkembangan pendidikan di Kabupaten Kudus.
Ia menyebut RAKERDIN bukan sekadar agenda rutin tahunan, melainkan ruang strategis untuk mendapatkan pencerahan dari para narasumber sekaligus merumuskan program pendidikan Ma’arif ke depan.
“RAKERDIN penting karena kita memperoleh pencerahan dari para narasumber, sekaligus menghasilkan rumusan penting untuk program Ma’arif,” katanya.
Kisbiyanto berharap LP Ma’arif NU Kudus terus bergerak lebih maju dan progresif dengan menghadirkan layanan pendidikan terbaik yang tetap berlandaskan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).
Sebagai pembicara utama RAKERDIN, Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, H. Abdul Wachid menyoroti kesenjangan pendidikan antara pendidikan madrasah di bawah Kemenag dan Sekolah dibawah Kemendikdasmen.
Abdul Wachid menyayangkan masih adanya perlakuan beda terhadap madrasah. Ia berjanji akan berusaha mendorong pemerintah untuk memberikan kebijakan yang sama antara madrasah dan sekolah.
Pembangunan pendidikan tidak cukup hanya berbicara mengenai prestasi, tetapi juga harus menyentuh persoalan kesejahteraan guru, sarana prasarana, dan kesetaraan akses terhadap program pemerintah.
"Kalau sekolah dapat smart box, madrasah juga harus dapat,” tegasnya.
Ia juga menyoroti persoalan tunjangan guru serta mendorong agar madrasah memiliki akses yang lebih luas terhadap berbagai program pemerintah, termasuk Program Indonesia Pintar (PIP).
Menurut legislator asal Jepara itu, madrasah harus mendapatkan perhatian yang setara dalam pembangunan pendidikan nasional.
Wachid mengatakan pihaknya akan terus menyerap aspirasi dari masyarakat (madrasah) di berbagai daerah untuk diperjuangkan di tingkat pusat.
Kepercayaan Masyarakat kepada Madrasah Tinggi
Sementara itu, Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Prof. Dr. Amin Suyitno, M.Ag., mengungkapkan fakta yang cukup menggembirakan.
Menurutnya, kepercayaan masyarakat terhadap madrasah sangat tinggi. Hal itu terlihat dari keberlangsungan jumlah peserta didik di madrasah, baik negeri maupun swasta.
“Alhamdulillah, tidak ada madrasah yang tidak mendapatkan murid. Semua mendapatkan murid, baik negeri maupun swasta. Ini menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap madrasah luar biasa,” ungkapnya.
Namun, kepercayaan tersebut, menurut Suyitno, tidak boleh disia-siakan. Madrasah harus terus meningkatkan kualitas agar kepercayaan masyarakat dapat dipertahankan.
“Kepercayaan masyarakat harus dirawat dengan menciptakan madrasah yang bermutu,” tegasnya.
Ia juga menyoroti masih belum meratanya sarana dan prasarana pendidikan. Menurutnya, perhatian terhadap lembaga pendidikan negeri selama ini masih lebih dominan dibandingkan lembaga swasta.
Secara prosentase madrasah di bawah Kemenag hanya 5 persen yang negeri dan 95 persen swasta. Ini berbalik dengan prosentase sekolah negeri swasta dibawah Kemendikdasmen.
Di sisi lain, persoalan kesejahteraan guru juga menjadi pekerjaan besar. Suyitno menyebut masih terdapat sekitar 300 ribu guru madrasah yang belum tersertifikasi.
Karena itu, penguatan kesejahteraan guru menjadi salah satu agenda penting yang harus terus diperjuangkan.
Suyitno menegaskan bahwa madrasah harus memperoleh kedudukan yang setara dengan sekolah dalam sistem pendidikan nasional.
Dalam pembahasan regulasi pendidikan, terdapat tiga persoalan penting yang perlu mendapatkan perhatian, yakni integrasi sistem pendidikan, kesejahteraan guru, dan kejelasan pendanaan.
Ia juga menekankan pentingnya kemitraan antara Kementerian Agama, madrasah, dan Komisi VIII DPR RI untuk memperjuangkan berbagai kebutuhan pendidikan madrasah.
Termasuk di dalamnya penguatan program sertifikasi guru. Pelaksanaan PPG dan kebijakan sertifikasi diharapkan memberikan dampak nyata terhadap peningkatan profesionalitas sekaligus kesejahteraan guru.
Aswaja Bukan Sekadar Identitas, tetapi Landasan
Ketua LP Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah, Fakhruddin Karmani, membawa RAKERDIN pada persoalan yang lebih mendasar yaitu identitas pendidikan Ma’arif NU.
Menurutnya, Aswaja bukan sekadar basis atau identitas kelembagaan LP Ma’arif NU, tetapi merupakan landasan dalam menjalankan gerakan pendidikan.
Karena itu, penguatan madrasah NU harus berjalan beriringan dengan penguatan nilai-nilai Aswaja.
Fakhruddin mengingatkan bahwa tantangan pendidikan saat ini semakin kompleks. Pendidikan agama tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi dan pembentukan karakter peserta didik.
Di tengah perubahan tersebut, guru dituntut semakin aktif dan siswa juga harus ditempatkan sebagai subjek aktif dalam proses pembelajaran.
Fakhruddin juga menekankan pentingnya menghidupkan kembali sejarah dan kiprah NU dalam proses pendidikan.
Pedoman tata kelola dan kurikulum Aswaja yang telah dimiliki LP Ma’arif NU perlu diterapkan secara nyata di sekolah dan madrasah.
“Tokoh-tokoh NU, sejarah NU, kiprah NU, dan gerakan NU harus dihadirkan kembali ke ruang-ruang kelas,” pesannya.
Menurutnya, peserta didik perlu dikenalkan bukan hanya dengan teori Aswaja, tetapi juga dengan perjalanan Nahdlatul Ulama, para tokohnya, perjuangannya, serta berbagai lembaga dan badan otonom NU.
Dengan cara tersebut, pendidikan Ma’arif tidak kehilangan jati dirinya di tengah perubahan zaman.
RAKERDIN 2026 akhirnya menjadi lebih dari sekadar forum evaluasi dan penyusunan program kerja. Forum tersebut menjadi ruang konsolidasi untuk menjawab sejumlah tantangan besar.
Yaitu bagaimana membuat madrasah semakin bermutu, memastikan guru semakin sejahtera, memperjuangkan pemerataan sarana prasarana, sekaligus menjaga Aswaja tetap hidup sebagai ruh pendidikan Ma’arif NU.
Nuhin/Litbang


0 Komentar