Ketua LP Ma’arif NU Jateng, Perkuat Ideologi Aswaja dan Transformasi Digital
Kudus, lpma'arifnukudus.or.id — Di tengah masifnya pergeseran tren budaya digital dan krisis moral yang mengintai generasi muda, lembaga pendidikan di bawah naungan LP Ma'arif harus sigap dan mengambil langkah proaktif.
Hal itu disampaikan Ketua LP Ma'arif NU Jawa Tengah, Fakhruddin Karmani dalam Rapat Kerja Dinas (Rakerdin) yang diadakan LP Ma'arif NU Kudus, Sabtu (8/8/2026) di Sapphire Boutique Hotel Kudus.
Melalui materi yang disampaikannya di hadapan ratusan kepala madrasah dan sekolah di bawah LP Ma'arif NU Kudus Fakhruddin mengatakan, pendidikan di lingkungan Nahdlatul Ulama tidak bisa lagi dikelola secara konvensional di tengah era globalisasi yang mengikis batas-batas geografis dan kultural.
"Para pengelola pendidikan NU harus cerdas dan mengambil langkah strategis agar lembaga pendidikan kita tetap eksis dan maju," kata Fakhruddin.
Ketua LP Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah itu menegaskan pentingnya menghadirkan sistem pendidikan yang holistik dan komprehensif.
Menurutnya, penguatan pemahaman Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) menjadi kunci utama agar sekolah dan madrasah Ma'arif mampu melahirkan kader yang tidak hanya berdaya saing, tetapi juga menjadi penentu arah peradaban.
Pendidikan di Ma’arif lanjut Fakhruddin, harus holistik dan komprehensif. Karena arus global sudah sedemikian rupa, masyarakat kita telah menjadi masyarakat global.
Pemahaman tentang Aswaja harus terus diperkuat untuk membangun lembaga pendidikan sebagai ruang melahirkan kader yang mampu membuat perubahan.
"Materi Ke-NU-an harus diperkuat agar ketika anak-anak kita lulus, kita tidak perlu khawatir lagi tentang ideologinya. Hadirkan masyayikh NU, kiai-kiai NU di dalam kelas. Kenalkan anak-anak dengan sejarah NU, gerakan dan kiprah NU, dengan organisasi dan banom-banom NU," ujar Fakhruddin.
Krisis Moral dan Tantangan Digital
Dalam kesempatan Rakernin tersebut Ketua LP Ma'arif NU Jawa Tengah menyampaikan fakta krisis moral yang semakin memprihatinkan.
Fakhruddin mengeluarkan data penelitian dari berbagai pihak tentang dinamika yang dihadapi generasi Z dan milenial saat ini.
Berdasarkan data BPS 2026, proporsi kedua generasi tersebut mencapai 45,81% dari total 284,67 juta jiwa penduduk Indonesia. Di sisi lain, fenomena pergeseran otoritas keagamaan tengah terjadi.
Riset Alvara Institute (2024) mencatat 34,1% Gen Z tidak merasa terikat dengan organisasi keagamaan manapun, sementara kajian Hasanah & Baharun (2025) menunjukkan kecenderungan Gen Z yang lebih memilih berguru pada faithfluencer di media sosial dibanding ulama tradisional.
"Kondisi tersebut diperparah oleh pola konsumsi internet yang kurang produktif. Data The Global Statistics (2024) menunjukkan dari 204,7 juta pengguna internet di Indonesia, pemanfaatan teknologi masih didominasi oleh konten hiburan (72,18%), sedangkan porsi untuk konten edukasi hanya berada di angka 2,02%," terang Fakhruddin.
Di tingkat lokal, Fakhruddin memaparkan potensi krisis moral di kalangan pelajar menunjukkan potret yang juga memprihatinkan.
Hasil riset IPNU-IPPNU Jawa Tengah (2024) terhadap lebih dari 3.000 siswa SMP/SMA mengungkap bahwa 65% siswa pernah mengalami bullying, 46% pernah berpacaran, 40% terlibat aktivitas seksual, serta 30% siswa pernah terpapar judi online maupun pinjaman online.
"Tantangan besar ini menjadi tanggung jawab seluruh eleman bangsa termasuk LP Ma'arif yang mengelola ribuan lembaga pendidikan," jelas Fakhruddin.
Ia menjelaskan, sebagai salah satu jaringan pendidikan swasta terbesar, LP Ma'arif NU Jawa Tengah menaungi 4.241 satuan pendidikan yang tersebar di 35 kabupaten/kota, membawahi 55.830 tenaga pengajar dan 578.326 peserta didik.
Portofolio ini mencakup 3.577 madrasah di bawah Kemenag (MI, MTs, MA) serta 664 sekolah di bawah Kemendikbud (SD, SMP, SMA, SMK).
Guna merespons kompleksitas tersebut, LP Ma’arif NU Jateng menurut Fakhruddin telah merumuskan 10 Program Prioritas untuk periode 2024–2029. Program ini mengombinasikan penguatan ideologi, digitalisasi, hingga peningkatan kualitas SDM.
Pertama, internalisasi Ideologi Aswaja Nahdliyyah melalui kurikulum Ke-NU-an dan SISDIKNU. Kedua, dgitalisasi layanan dan pembelajaran (School Digital Learning). Ketiga, meningkatan kompetensi guru dan tenaga kependidikan.
Keempat, pendampingan satuan pendidikan melalui Program Sister School. Kelima, penguatan literasi, numerasi, dan layanan pendidikan inklusif. Kelima beasiswa studi lanjut dan magang guru & peserta didik Ma’arif.
Keenam, English Capacity Building Program untuk Guru dan Peserta Didik. Ketujuh, penguatan pendidikan vokasi melalui LSP P2 Ma’arif Jateng.
Kedelapan. Olimpiade dan kompetisi guru serta peserta didik Ma’arif. Dan kesembilan, rintisan dan pengembangan balai diklat Ma’arif.
Nuhin/Litbang



0 Komentar